Kamis, 16 Mei 2013

Buddha Hendak Menyelamatkan Dirimu 01



Ada seorang senior di Taiwan National University of Science and Technology yang bernama Chun-hua, ia mengalami kecelakaan mobil sehingga terluka parah dan dibawa ke rumah sakit, setelah melalui usaha keras dokter namun akhirnya gagal menyelamatkan nyawanya. Dokter meminta pihak keluarga untuk mempersiapkan diri menghadapi kondisi yang paling buruk. Rekan-rekan nya segera mengambil langkah untuk melafal Amituofo melimpahkan jasa buat Chun-hua. Semuanya berharap agar dalam lafalan Amituofo, Chun-hua dapat pulang ke kampung halaman Buddha Amitabha, menggapai tangan welas asih Buddha Amitabha.

Namun kemudian rekan-rekan yang walaupun telah memiliki pengalaman membantu melafal Amituofo yang cukup memadai, mulai berdiskusi bagaimana langkah selanjutnya untuk membantu teman yang akan menjelang ajal. Melihat mereka begitu tulus, saya pun ikut mendengar diskusi mereka.

Dikarenakan pada saat kondisi Chun-hua darurat, ada umat yang sangat iba melihat Chun-hua dipasang selang sana-sini, makanya menganjurkan agar masker oksigennya dicabut saja, sementara pihak keluarga tidak tega melakukan hal ini.

Saya merasa dalam membantu insan menjelang ajal melafal Amituofo harus menggenggam ucapan Master Ou-yi yakni : “Berhasil tidaknya seseorang terlahir ke Alam Sukhavati adalah tergantung pada ada tidaknya keyakinan dan tekad yang dimilikinya”.

 Jika “berhasil tidaknya seseorang terlahir ke Alam Sukhavati adalah tergantung pada ada tidaknya keyakinan dan tekad yang dimilikinya”,  maka terlahir atau tidak bukan ditentukan oleh faktor “infus atau tidak diinfus” atau pada ketrampilan seseorang dalam melafal Amituofo.

Namun pada “Buddha Amitabha hendak menyelamatkan dirimu, apakah anda bersedia diselamatkan?”

Jadi ada pada masalah “bersedia” atau “tidak bersedia” diselamatkan.

Jika keyakinan dan tekad kita teguh, walaupun diinfus tapi tetap bisa terlahir ke Alam Sukhavati (cobalah pikirkan, apakah karena seseorang diinfus maka Buddha Amitabha tidak menjemputnya?). Jadi masalahnya adalah harus memiliki keyakinan dan tekad yang teguh.

Sebaliknya bila tidak memiliki keyakinan dan tekad yang teguh, ada tidaknya diinfus juga tak bisa terlahir ke Alam Sukhavati!

Karena itu ketika kita menemukan kondisi yang sudah tidak bisa diubah, misalnya sudah diinfus dan dipasang selang sana sini, kita tidak memiliki pilihan lagi. Daripada memperdebatkan layak atau tidak layak, lebih baik waktu yang ada digunakan untuk melafal Amituofo.

Pikiran kita harus terfokus pada “melafal Amituofo dengan keyakinan dan tekad”, dan bukan diletakkan pada “infus atau selang”, ini harus kita perhatikan setiap saat kita membantu insan lain melafal Amituofo.

Dikutip dari buku “Buddha Hendak Menyelamatkan Dirimu”karya Master Dao-zheng