Minggu, 02 Juni 2013

Kelompok Gangster Berubah Menjadi Pesamuan Kolam Teratai 023



Bara api berubah menjadi teratai merah (bagian 3)


Walau hanya dengan satu kaki, juga harus melakukan namaskara sampai ke atas gunung untuk berterimakasih pada budi Buddha, melimpahkan jasa kebajikan pada pasien lainnya.


Untuk berterimakasih pada maitri karuna dan budi  Buddha Amitabha, saya mengadakan janji dengannya untuk melakukan namaskara sampai ke atas gunung, maka dia pun semakin tekun berlatih. Tidak memakai tongkat bagaimana bisa bernamaskara sampai ke atas gunung? Yakni dengan bernamaskara terlebih dulu, kemudian bangun dan berdiri, setelah itu dengan satu kaki dia melompat ke depan, lalu melakukan namaskara lagi. Kami tertawa bersama sambil berkata : “Kita berdua walaupun jadi tidak kuat berdiri sehingga bergoyang-goyang, namun juga bisa menikmati goyangan kebahagiaan dalam pangkuan Buddha Amitabha, walaupun sampai kejatuhan, juga akan jatuh ke dalam pangkuan Buddha Amitabha, dapat jatuh ke dalam Alam Sukhavati, ini merupakan hal yang bahagia, melakukan namaskara di gunung bila terjatuh, juga akan jatuh ke tanah suci Buddha Amitabha, ibarat anak kecil yang memanjakan dirinya di pelukan bunda, asalkan memiliki keyakinan dan rasa syukur, sesulit apapun perjalanan yang akan dilalui, juga akan menjadi indah dan manis”.


Selesai berkata demikian, kami melanjutkan namaskara hingga ke atas gunung, dia tidak menopang pada tongkatnya, dia hanya menggunakan satu kakinya melakukan namaskara, juga dengan satu kaki dia berdiri kembali, kemudian dengan satu kaki dia melompat selangkah ke depan, kemudian melakukan namaskara lagi, dia bernamaskara dengan sangat bersukacita, namun karena rute gunung semakin meninggi, ada sebagian jalan yang agak curam, dan tidak rata, dengan menggunakan satu kaki melompat ke depan sungguh merupakan hal yang sulit, sehingga kemudian dia terjatuh! Para Bodhisattva lainnya yang melihat dia begitu berusaha keras, begitu tulus, sejak tadi airmata telah membanjiri wajah masing-masing!  Master Dao-xiang melihatnya terjatuh, segera menghampirinya, mengangkatnya berdiri, dia semakin tegar dan gigih, bersukacita melanjutkan namaskara hingga ke puncak gunung. Kemudian dia melimpahkan jasa kebajikan dari bernamaskara ini kepada semua makhluk agar terbebas dari penderitaan dan mendapatkan kebahagiaan, juga melimpahkan jasa kebajikan ini kepada para pasien kanker, agar juga memperoleh kekuatan kegigihan, ketabahan dan kebahagiaan!


Bersabar melewati jalanan berliku-liku
Menggunakan satu kaki melangkah di jalan peduli pada insan lain.


Wang Xue-qin memiliki 2 orang anak,  yang satu putra dan satunya lagi putri, baru duduk di bangku sekolah dasar. Suatu hari, dia pergi ke sekolah anaknya untuk mengikuti sebuah acara, teman anaknya menertawai dirinya juga mengejek anaknya : “Hahaha, mamamu pincang!” Anaknya jadi begitu sedih, pulang ke rumah kesedihan berubah menjadi emosi, agar mamanya lain kali jangan ke sekolahnya lagi sehingga menyebabkan dia kehilangan muka. Siksaan ini juga bisa dia lampaui dengan melafal Amituofo. Setelah mengetahui hal ini saya memotivasi anaknya dengan berkata : “Mamamu adalah seorang Bodhisattva, walaupun dia kehilangan satu kakinya, namun dia menjalani jalan yang baik dengan menggunakan sebelah kakinya serta kegigihan memotivasi pasien lain, mamamu lebih mulia bila dibandingkan dengan orang sehat yang memiliki dua kaki namun tidak memanfaatkannya dengan baik, kamu harus menghargai mama yang begitu mulia, dia menopang pada tongkat untuk membesarkan dirimu, sampai ke sekolah untuk memberi perhatian pada dirimu, dia lebih layak dihormati daripada banyak bunda yang tidak bertanggungjawab pada anaknya. Lain kali bila mama ke sekolah, kamu boleh amat berbangga hati memperkenalkan beliau pada teman-teman sekolahmu  : ini adalah mama saya yang penuh kegigihan, kemuliaan, dan welas asih. Kamu tak perlu merasa minder karena mama kehilangan satu kakinya!”


Keyakinan yang bijaksana


Pernah ada yang menertawainya dan berkata : “Buddha kalian mana ada memberkati mu, jika tidak, mana mungkin kamu akan pincang?” Dia menjawab :”Buddha paling maitri karuna, walaupun kondisi diriku adalah akibat karma buruk yang pernah saya perbuat sehingga pincang, namun Buddha masih sudi menerima diriku, menyambutku dan memberkati ku”.


Sanak keluarga yang patut dihormati---22 kali pembedahan, masih tetap tulus dan bersabar.


Dia juga memberitahukan padaku, dia sangat berterimakasih pada mertua dan suaminya, tidak menolak seorang menantu yang pincang, malah lebih menjaga dirinya. Saya pernah melihat beberapa keluarga, karena kelamaan merawat pasien yang sakit, maka timbul kejenuhan, maka itu saya sangat menghormati keluarganya, dapat memiliki kesabaran dalam memperlakukan seseorang yang telah menjalani pembedahan sebanyak 22 kali, dengan tulus dan kasih sayang. Jika anda pernah menunggui orang yang anda sayangi di depan kamar bedah, maka dapat memahami perasaan gelisah tersebut, menanti keputusan dari dokter, serta menghadapi ketakutan berpisah dengan orang yang disayangi, sungguh perih sekali!


Menenangkan diri, menerima dengan ikhlas, memiliki kebijaksanaan.


Terutama suaminya yang patut dihormati, setelah istrinya harus menjalani pembedahan 20 kali, namun dia tidak mengeluh atau menyalahkan orang lain, hanya berkata pada istrinya : “Mungkin pada kehidupan lampau kita melakukan kejahatan bersama-sama, kamu adalah otak pelakunya dan saya adalah pembantunya, maka kelahiran ini kamu yang menjalani siksaan pembedahan, saya merasakan siksaan  ketakutan dan kekhawatiran”. Walaupun hanya ucapan singkat ini, namun ucapan yang begitu yakin pada hukum karma, juga mengandung pertobatan yang mengakui sejak masa lampau hingga hari ini tentunya banyak kesalahan yang pernah diperbuat.


Tidak seperti sebagian banyak orang yang ketika bertemu kesulitan pasti merasa “diriku sudah begitu bajik, mengapa bisa begitu sial? Tuhan tidak memberkatiku, Buddha tidak melindungiku”, mengeluh dan menyalahkan orang lain, seharian tak berhenti memikirkan kerisauannya. Jika ingin mengetahui sebab masa lampau, lihatlah apa yang dialami pada kelahiran sekarang; jika ingin mengetahui kondisi kita pada kelahiran mendatang, maka lihatlah apa yang kita perbuat pada masa kini. Suaminya dapat berpikir demikian, maka dapat menerimanya dengan sukacita, dapat menenangkan dirinya, dengan ikhlas menerimanya, inilah yang disebut “memiliki kebijaksanaan”.


Lautan tumimbal lahir, ketika tiada yang dapat diandalkan,
hanya Buddha Amitabha tempat kita berlindung.


Terutama setelah mereka meyakini ajaran Buddha, setiap menghadapi detik-detik pembedahan, maka lebih mentuluskan hati melafal Amituofo, atau saat terapung di lautan yang sangat luas, barulah menyadari tiada tempat untuk berlabuh atau yang bisa diandalkan, hanya Amituofo sebagai tempat berlindung, dengan demikian cahaya di hati baru akan menyala cemerlang. Suaminya juga dengan tulus mengatakan bahwa : “Ini semua adalah berkat perlindungan dari para Buddha dan Bodhisattva”, dia pernah dua kali melafal Amituofo di depan kamar bedah dan mendapatkan mujizat.


Dikutip dari Ceramah Master Dao-zheng :
Kelompok Gangster Berubah Menjadi Pesamuan Kolam Teratai