Kamis, 30 Mei 2013

Kelompok Gangster Berubah Menjadi Pesamuan Kolam Teratai 09




Malapetaka berubah menjadi keselamatan --- Melafal Amituofo terhindar dari kasus pemboman


Ketidakkekalan Dunia


Jika ada insan lain yang menasehati anda :”Dunia ini sungguh tak kekal, nyawa manusia tiada jaminannya, anda sebaiknya sambil jalan sambil melafal Amituofo agar senantiasa terhindar dari malapetaka. Selesai mendengar ucapan ini, anda pasti akan membelalakkan mata anda sejenak , menganggap orang itu kuno sekali.

Di sini saya ingin berbagi pengalaman saya yang sempat selamat dari kasus pemboman, untuk mengingatkan lagi hadirin sekalian agar waktu berjalan maupun sedang berkendara janganlah lupa untuk melafal Amituofo.



Sambil berjalan sambil melafal Amituofo, terhindar dari malapetaka.


Ketika mengunjungi Master Guang-qin, beliau menasehati saya agar senantiasa melafal Amituofo. Namun sungguh disesali, bentuk-bentuk pikiran saya bertumpuk-tumpuk, selalu saja tidak sanggup mengamalkan pesan Master. Tugas seorang dokter sangatlah sibuk, sehingga hanya bisa melatih cara sambil jalan sambil melafal Amituofo, satu langkah satu lafalan “Amituofo”. Cara ini telah menyelamatkan nyawaku, sehingga terlepas dari malapetaka pemboman!



Kasus pemboman karena emosi sesaat


Malam itu adalah malam minggu, ketika saya masih bertugas di Rumah Sakit Ruan Zhong He” di Kaohsiung, sebagai dokter spesialis penyakit dalam. Malam minggu bagi kami bukanlah berarti dapat bersantai, karena harus sibuk menambah ilmu, pihak rumah sakit akan mengundang para profesor terkemuka untuk memberi seminar. Kami akan sibuk sampai lewat pukul 7 malam, dan bersiap-siap pulang rumah, hati sungguh senang karena ingin menikmati masakan mama.


Maka itu sambil berjalan pulang, saya melafal Amituofo, sambil menuruni anak tangga dan ketika sampai di pintu gerbang rumah sakit, tiba-tiba saya menghentikan langkah kaki, teringat pada profesor Liu yang sangat welas asih dan senang berbagi ilmu, malam ini kebetulan beliau sedang ada praktek, karena itu saya jadi ingin membantunya sambil menambah pengetahuan, kemudian saya berniat untuk kembali ke dalam rumah sakit.


Sambil melafal Amituofo, saya berjalan menuju ruang pemeriksaan, baru saja 5 atau 6 langkah masuk kembali ke dalam rumah sakit, tiba-tiba terasa ada seberkas sinar yang kuat, diikuti dengan suara ledakan, ledakan keras ini sempat membuat rongga dada terasa sakit, saya mengira ada yang tak beres dengan listrik di jalanan, makanya tak merasa penasaran dan meneruskan langkahku ke ruang pemeriksaan. Tiba-tiba terdengar jeritan : “Bom rakitan meledak! Ada korban yang mati, ada yang terluka!” Ada insan yang tadinya menunggu mobil jemputan di halaman rumah sakit, perutnya jadi terkoyak, sebagian dokter dan suster juga berlarian dari lantai atas ke bawah karena mengira ada gempa, bahkan plafon gedung juga sempat berjatuhan. Siapa pun tidak mengira kejadian malam minggu yang menggemparkan ini.


  
Kehidupan manusia ada pada pernafasan


Buddha berkata : “Dunia ini tidak kekal, kehidupan manusia ada pada pernafasan”. Bila saja saya berjalan tidak sambil melafal Amituofo, tentu saja akan mengikuti karma sendiri dan meneruskan melangkah keluar dari gedung rumah sakit, dan tubuhku juga akan hancur lebur oleh ledakan bom rakitan itu! Karena ledakan berasal dari salah sepeda motor yang dipakir di depan rumah sakit, ini adalah teror yang dilakukan karena emosi sesaat. Saya tidak memiliki kebiasaan membaca suratkabar jadi tidak mengetahui lebih terperinci, hanya mendengar rekan-rekanku bilang bahwa, di pabrik pupuk Taiwan ada seorang karyawannya yang dulunya pernah menjadi tentara, makanya dia bisa merakit bom, dia tak harmonis dengan rekan kerjanya, dalam hatinya timbul kebencian, maka itu dia merakit beberapa bom, mengaitkan kabel bom ke  lampu sepeda motor, ketika lampu sepeda motor di nyalakan maka bom langsung meledak, kekuatannya bisa menghancurleburkan tubuh manusia.


Mengapa diledakkan di depan rumah sakit? Karena sebelumnya ada seorang karyawan pabrik pupuk Taiwan yang juga terkena ledakan bom di tempat lain dan di opname di rumah sakit ini. Kemudian karyawan musuhnya ini datang ke rumah sakit membesuk temannya yang terluka, namun tak pernah terduga bahwa sepeda motornya telah diisi bom rakitan, waktu berkunjung hari masih terang jadi tidak menyalakan lampu, ketika hendak pulang langit sudah gelap, dan begitu menghidupkan mesin dia segera menyalakan lampu, begitu menyala, tangan dan kakinya pun hancur berterbangan.

  

Kehidupan yang bagaikan mimpi khayalan serta gelembung sabun, buat apa menjalin permusuhan?


Tubuh kita seperti gelembung-gelembung sabun, setiap saat bisa lenyap, kehidupan sementara yang begitu maya ini, mengapa harus digunakan untuk menjalin permusuhan? Meledakkan raga orang lain dan kemudian harus diadili, hukum karma sedikitpun takkan meleset,  apa yang diperbuat itulah yang harus diterima. Sungguh disesali, nyawa yang begitu berharga harus berakhir karena emosi sesaat.


Buddha dan Bodhisattva mengalirkan airmata, tanpa mempedulikan diri Nya sendiri, mengejar sampai ke neraka untuk menyelamatkan anak Nya yang bodoh.

Buddha berkata : “ Kita memiliki rasa cinta, amarah, kebodohan, adalah sama dengan “tiga racun”.  Namun kita selalu suka memakan racun ini sampai nyawa pun harus berakhir. Buddha memperlakukan semua makhluk, yang baik maupun  yang jahat, adalah sama dengan anak tunggalnya. Melihat anaknya yang selalu bertindak bodoh, tidak mau mendengar nasehat dan terus mengoleskan racun ke dalam diri sendiri, Buddha dan Bodhisattva hanya bisa mengalirkan airmata. Tanpa peduli pada diriNya sendiri langsung mengejar anak-anaknya, walau harus sampai ke neraka sekalipun, Dia juga tetap akan menyelamatkan anak-anak Nya, takkan satu pun yang terabaikan, terus menerus menasehati mereka, sampai mereka sudi mencapai pencerahan, meninggalkan penderitaan mencapai kebahagiaan.


Dikutip dari Ceramah Master Dao-zheng :
Kelompok Gangster Berubah Menjadi Pesamuan Kolam Teratai