Kamis, 30 Mei 2013

Kelompok Gangster Berubah Menjadi Pesamuan Kolam Teratai 07




Kisah Bodhisattva Sukacita (Bagian 2)

Terpaan angin, rumah rusak, tetesan air hujan, anak sakit, ternak mati, panen gagal, berbagai kepanikan.
Penderitaan ekstrim, mengerahkan segenap hati melafal Amituofo.

  
Bodhisattva Sukacita menceritakan bahwa pada tahun di mana dia membawa putrinya keluar dari rumah sakit dan pulang ke rumah, bertepatan terjadinya badai, setibanya di rumah, kondisi rumah sudah porak poranda, hampir saja diterbangkan oleh badai, untunglah berkat bantuan penduduk dusun, atap rumahnya tak jadi dibawa badai, namun yang tak terhindari adalah kebocoran dan air hujan masuk ke dalam rumah, anak-anaknya yang lain yang dikejutkan peristiwa badai menjadi ketakutan dan terduduk di lantai, sungguh kasihan, baru saja sampai di rumah, belum sempat mengurus putrinya, harus merisaukan malam ini ke mana harus berteduh, benar-benar kondisi dimana “rumah bocor menatap hujan malam yang berkepanjangan”, namun dia tetap tegar, airmatanya takkan mengikuti rintikan air hujan yang mengalir, keyakinannya juga tak goyah diterpa angin! Dia mulai melafal Amituofo, sepanjang malam dalam rintikan hujan, dia menemani suara tetesan air dengan lafalan Amituofo, ketika angin bertiup kencang, dia akan lebih bersemangat daripada hembusan angin, memperkokoh ketenangan hatinya, ibarat angkasa bebas yang tak gentar oleh terpaan angin.


Dia bukan seorang praktisi yang melafal Amituofo dalam kondisi yang menyenangkan, namun dalam keadaan penuh kesusahan, “rumah rusak, terpaan angin, tetesan air hujan, anak sakit, ternak mati, gagal panen, berbagai kepanikan, tiada tempat berteduh”, penderitaan yang sungguh ekstrim, dia mengerahkan segenap hatinya melafal Amituofo, menyerahkan semuanya kepada Buddha Amitabha, dimana kekuatan manusia sudah tak berdaya lagi, dia hanya yakin akan satu hal yakni mengandalkan Buddha Amitabha.

  
Dengan sendirinya hati jadi terbuka, Habis gelap terbitlah terang.

Dalam sutra tertera, jasa kebajikan melafal Amituofo sungguh tak terbayangkan, tiba-tiba dia telah mampu mengikhlaskan semua penderitaannya, hatinya jadi terbuka, habis gelap terbitlah terang! Di dalam Bab “Bodhisattva Mahasthamaprapta Melafal Nama Buddha Sempurna Tanpa Rintangan”, tertera : “Jika pikiran para makhluk, mengingat dan melafal nama Buddha, kelak pasti akan bertemu dengan Buddha, takkan jauh terpisah dari Buddha, tak perlu menambah menggunakan metode lainnya, dengan sendirinya hati akan terbuka (menemukan jiwa KeBuddhaan). Bagaikan insan yang menyalakan dupa harum, maka jasmaninya juga turut menebar harum semerbak, inilah yang disebut “kewibawaan semerbak cahaya” (dengan semerbak keharuman Dharma-kaya Buddha dan cahaya kebijaksanaan Nya, menwibawakan jiwa KeBuddhaan diri)


Saya menemukan contoh “dengan sendirinya hati jadi terbuka” pada diri Bodhisattva Sukacita, dalam penderitaan yang ekstrim, dia menfokuskan diri melafal Amituofo, dengan pikirannya mengubah kondisi,  hati terbuka nasib pun berubah, bersukacita melewati hari-harinya. Dia berkata : “Buddha Amitabha membantu membuka kebijaksanaanku, membuka pintu hatiku, mengubah semua kerisauanku menjadi kekuatan dan sukacita!”. Seorang ibu petani yang tidak mengenal huruf, namun dapat mengucapkan kalimat sedemikian, sungguh membuatku kagum dan menyesali diriku tak sebanding dirinya.

  

Menyesali Karma Pembunuhan.


Belasan tahun yang lalu, ketika Master Chan-yun mengadakan ceramah tentang sila dan vegetarian, saya menganjurkan Bodhisattva Sukacita dan putrinya untuk turut mendengarkan ceramah. Dan kemudian ibu dan anak memutuskan untuk ber-Trisarana. Setelah Master Chan-yun memberikan ceramah pada mereka, Bodhisattva Sukacita sangat menyesali perbuatannya di masa lalu akibat ketidaktahuan nya, telah banyak membunuh ayam dan bebek. Sambil menangis dia berkata : “Ketika melihat putriku menderita sakit parah dan harus menjalani radioterapi sampai kulit lehernya jadi hangus, sampai terkelupas dan sulit menelan makanan, dia baru menyadari di masa lalu bagaimana penderitaan ketika pisaunya menancap di leher ayam.


Dikutip dari Ceramah Master Dao-zheng :
Kelompok Gangster Berubah Menjadi Pesamuan Kolam Teratai