Jumat, 14 Juni 2013

Ujian dari Master Guang Qin 017




Ujian ditengah kesakitan


Apakah itu adalah lipan? Dilempar kamu, entah sakit tidak?


Suatu hari, guruku bersama sekelompok orang pergi ke hutan untuk bekerja, dia meletakkan topinya di atas tanah, ada seekor lipan (kelabang) memanjat dan bersembunyi di dalam topinya, waktu itu guruku masih belum mengetahuinya --- ketika hendak memakai kembali topinya, biasanya dia akan mengibas dan memukul-mukul topinya terlebih dahulu sebelum dipakai, begitu dia memakai topinya langsung digigit oleh lipan, tak hanya memerah namun juga amat sakit, dan kulit kepalanya langsung membengkak!  


Namun karena setiap orang memiliki pekerjaan masing-masing, walaupun lukanya sangat sakit, juga harus menahan sabar untuk menyelesaikan pekerjaan, akhirnya kesakitan sampai berdiripun tak kuat lagi, maka melapor pada Master Guang Qin. Master malah tidak menanyakan bagaimana kondisi lukanya, apakah parah atau tidak, hanya bertanya --- “bagaimana keadaan lipan tersebut?” Guruku menjawab :”Ketika itu saya digigit dan kesakitan, belum melihat jelas topinya sudah langsung kulempar!”  Master Guang Qin berkata : “Terus lipannya sudah kamu lempar, apakah terluka atau tidak ya?”



Menjaga “sebersit niat pikiran yang muncul” melampaui memperhatikan raga


Ada orang yang mungkin merasa aneh --- mengapa Master Guang Qin begitu tak peduli pada muridnya yang sedang terluka? Sesungguhnya, sikap Master Guang Qin terhadap muridnya yang serius melatih diri, adalah menjaga niat pikiran muridnya, dan Dharmakaya serta jiwa kebijaksanaannya, melampaui menjaga raganya.



Niat pikiran yang menentukan raga.


Oleh karena kita berada di enam alam tumimbal lahir,  pasti memiliki raga, hanya saja setiap kelahiran bentuk raga kita berbeda,  kadang kala memakai raga “manusia”. Kadang kala menjadi “hewan”, jadi babi, sapi, atau bahkan menjadi raga setan. Raga itu pasti ada hanya saja berbeda-beda! Tubuh apa yang akan dimiliki adalah ditentukan oleh niat pikiran kita. Bila saat ajal sebersit niat pikiran yang muncul adalah amarah, maka akan berganti raga makhluk neraka yang menderita, namun bila  saat ajal sebersit niat pikiran yang muncul adalah melafal Amituofo, maka akan berganti raga Buddha yang keemasan.


Saat kesakitan juga harus mempertahankan hati maitri karuna

Seketika juga keluar dari “kemelekatan pada keakuan”, memperoleh kebebasan


Dalam keseharian kita hanya tahu menjaga diri kita sendiri, melekat pada tubuh,  dan bukannya mempedulikan sebersit niat pikiran yang muncul! Master Guang Qin begitu maitri karuna, mengingatkan muridnya --- walaupun digigit lipan, walaupun dalam keadaan kesakitan, harus tetap mempertahankan hati maitri karuna, juga menjaga lipan, tidak hanya menjaga diri sendiri dan  mengasihani diri sendiri.


Ketika kita dapat  membangkitkan hati maitri karuna pada semua makhluk, seketika juga muncul sebersit niat pikiran tersebut, kita takkan merasa menderita, yakni keluar dari kemelekatan pada tubuh jasmani, memperoleh pembebasan. Lagipula, bila sepanjang hidup kita memancarkan gelombang pikiran maitri karuna Buddha dan Bodhisattva, maka tentu saja memancarkan rupa para Buddha dan Bodhisattva, memperoleh raga Buddha dan Bodhisattva.


Dikutip dari ceramah Master Dao-zheng : Ujian dari Master Guang Qin