Senin, 10 Juni 2013

Dari Bahagia Menuju Kebahagiaan 025



Mengapa dalam keseharian harus selalu melafal Amituofo?

  Ada insan yang berkata : “Jika demikian halnya, maka saya akan menanti sampai saat menjelang ajal baru melafal Amituofo,  buat apa setiap saat harus melafal Nya?”, coba anda pikirkan, mengapa dalam keseharian kita harus senantiasa  melafal Amituofo?  Ibaratnya seorang anak, sejak kecil tidak memiliki kebiasaan belajar menulis, ucapan  papa mama, dan gurunya juga tidak diturutinya, asalkan ada waktu luang nonton tv, atau main-main di luar, jika demikian mana mungkin bisa lulus ujian masuk perguruan tinggi? Maka itu dalam keseharian seketika juga harus membiasakan diri melafal Amituofo, begitu melafal Amituofo seketika juga pikiran kita menjadi tenang, hati kita menjadi terang, dapat dikatakan langsung memasuki kondisi batin Alam Sukhavati.

Ketika kondisi tubuh kita masih baik dan sehat, jika tidak melatih ketrampilan melafal Amituofo  dengan baik, sebagian orang ketika menghadapi saat ajal akan sangat menderita. Contohnya di rumah sakit, setiap hari saya melihat  pasien yang menghadapi ajalnya, jika bukan mengalami rasa sakit yang luar biasa, kesakitan tanpa henti, juga tak mampu berbicara, tidak bisa menelan makanan, tidak bisa tidur, ada yang sangat sulit bernafas, satu nafas saja tidak mampu ditariknya, apalagi ingin berkonsentrasi melafal Amituofo merupakan hal yang sulit, namun juga bukan hal yang tidak mungkin, cuma agak sulit, harus memiliki tekad yang demikian kuat barulah dapat melakukannya.  Kita kembali mengatakan bahwa dalam sepuluh penyebab kematian terbesar, urutan pertama adalah penyakit kanker,  sebagian penyakit ini menimbulkan siksaan yang sangat menderita, kecuali dalam keseharian pasien itu tekun melafal Amituofo, dalam pemberkatan  kekuatan Buddha barulah ada kemungkinan tidak menderita.

Sebagian pasien yang tidak melafal Amituofo akan sangat menderita, sangat bersedih. Coba anda pikirkan, dalam keseharian hanya digigit nyamuk saja sudah merasa sangat risau, insan yang tidak mampu menenangkan pikiran untuk melafal Amituofo, andaikata suatu hari mengalami kesakitan yang luar biasa, apakah masih dapat menenangkan diri melafal Amituofo?  Mungkin saja mengalami pendarahan besar, panik sampai gemetaran, ingin melafal Amituofo dengan tenang adalah sangat sulit. Apalagi penyakit darah tinggi, jika sampai terserang stroke maka akan mengalami koma dan tak sadarkan diri. Sebagian kejadian, diantara sepuluh orang ada sembilan orang yang dapat dikatakan saat menjelang ajalnya berada dalam keadaan tak sadarkan diri, tidak dapat menjadi pengendali diri sendiri. Atau mengalami kecelakaan atau bencana, meninggal karena kecelakaan lalu lintas, pesawat terbang jatuh, meninggal dalam kebakaran, ini merupakan kematian secara tragis. Anda pikirkan saja, kecelakaan yang tragis ini, mana mungkin bisa tenang melafal Amituofo?  Kecuali bila anda melatih sampai tahap tak peduli dalan keadaan sepanik apa pun, niat pikiran pertama yang muncul adalah Amituofo,  barulah ada kemungkinan dalam kecelakaan darurat dapat melafal keluar  Amituofo. 

Maka itu melafal Amituofo dalam keseharian adalah pelatihan, setiap saat mengingatkan diri sendiri harus memiliki hati maitri karuna yang cemerlang. Contohnya, kita harus mengetahui : jika ada kebakaran maka harus segera menelepon 119 maka mobil pemadam kebakaran segera tiba, andaikata kita sama sekali tidak tahu jika terjadi kebakaran harus menelepon siapa baru ada yang datang memberi pertolongan, juga sangat keras kepala berpikir : “Ah! Biarkan saja kebakaran itu, itu karena sedang sial”. Atau diri sendiri merasa : “Tidak mungkin! Saya takkan begitu sial tertimpa bencana kebakaran!” Karena tidak suka pada bencana  api, makanya sengaja tak mempedulikannya, juga tidak mengingat nomor telepon apa yang harus dihubungi baru ada pertolongan dari orang lain, namun bila benar-benar terjadi maka akan sangat merepotkan. Atau ketika tetangga anda yang mengalaminya, anda juga tidak tahu bagaimana cara membantunya.

Dulu di Tainan, ada orang yang merasa begitu panik ketika terjadi perisitwa kebakaran, juga tidak tahu barang apa yang harus diselamatkan keluar, pikirannya begitu panik dan kalut, ambil yang ini tak betul, ambil yang itu juga salah, tukar punya tukar, akhirnya membawa sebuah pispot keluar, ini adalah kejadian nyata, kita jangan menertawakan orang lain. Di rumah sakit saya melihat kondisi banyak pasien yang menjelang ajalnya, tidak pernah melihat orang yang tak pernah melafal Amituofo  bisa begitu tenang dan nyaman, dengan wajah yang penuh senyuman  meninggal dunia.  Sebagian orang  meninggal dengan sangat menderita, begitu takut dan panik, dengan orang yang membawa pispot menerobos keluar tidaklah berbeda.


Dikutip dari ceramah Master Dao-zheng : “Dari Bahagia Menuju Kebahagiaan”