Kamis, 31 Oktober 2013

Menebar Senyum 05


Menebar Senyum Memasuki Kolam Tujuh Mustika
Kisah Chen Jin-chi
Bagian 5

Setelah melewati berbagai cobaan, akhirnya dia kembali ke tekadnya semula, niatnya yang paling berharga adalah dapat mengalihkan penderitaannya menjadi niat untuk membantu makhluk lainnya. Dia memberitahukan diriku bahwa dia memiliki sebidang tanah, dimana dia ingin mendirikan tempat peristirahatan bagi para pasien sambil melafal dan bernamaskara pada Buddha Amitabha, membantu mereka yang menderita. Saya merasa bahwa kala seseorang berada di ranjang pesakitan namun bisa mengikrarkan tekad sedemikian, sungguh bukanlah hal yang mudah. “Satu niat baik dapat melenyapkan ribuan malapetaka, tekad besar menguraikan ribuan kecemasan”. Dengan kekuatan niat baiknya itu telah mengalihkan penderitaannya ke arah yang lebih baik, ketika tekad agung diikrarkan maka lepaslah segala penderitaan.


Sesungguhnya saya tidak terlalu memahami tentang pendirian bangunan, namun saya memberinya ucapan selamat, tidak mudah bagi seseorang yang sedang berada di ranjang pesakitan dimana otaknya telah mengalami tekanan dan sulit mengeluarkan suara, namun masih memiliki niat demikian. Tak peduli bagaimana jalinan jodoh berakhirnya kehidupan ini, namun yang penting telah membangkitkan sebersit niat baik untuk memberi manfaat bagi makhluk lain, yang juga berarti telah memupuk bunga dan buah kebijaksanaan Buddha dan Bodhisattva.


Pada mulanya saya tidak mengira dia begitu serius, tidak disangka dia menggunakan tangannya yang telah kaku itu untuk menggambar sebuah denah bangunan, di atas denah ditulis “Namo Amitabha Buddhaya” yang menunjukkan bahwa bangunan itu adalah vihara. Setelah dia wafat, seorang sanak keluarganya bermimpi melihat dirinya berada di sebuah bangunan yang indah dan megah, mungkin ini adalah mujizat dari keinginannya untuk mendanakan sebuah bangunan bagi para pasien untuk melafal Amituofo!


Karena itu janganlah kikir untuk membangkitkan sebersit niat baik, juga jangan pelit untuk mengucapkan sepatah kata baik. Kita harus senantiasa membangkitkan pikiran baik, mengucapkan kata baik, di dalam kondisi yang tidak menyenangkan segera mengembalikan pikiran ke jalan yang benar, mengarah kepada Buddha dan cahayaNya. Walaupun dia berada di ranjang pesakitan, namun niatnya yang kuat untuk membantu insan lain melafal Amituofo, bunga teratai di Alam Sukhavati bermekaran, istana tujuh mustika yang seharusnya juga menjadi miliknya seketika terwujud. Segala kondisi tercipta dari pikiran! Pikiran dapat menciptakan Alam Sukhavati, hati dapat menikmati kebahagiaan.


Pertama kali ketika kami bersua, telah ada seorang Bodhisattva yang bernama Nyonya Wang, setelah mengetahui kondisi penyakit yang dideritanya maka segera memberinya Sutra Bhaisajyaguru dan memotivasinya untuk membaca, karena selama ini Upasaka Chen sehat-sehat saja, mendadak divonis dokter dan dia tidak dapat menerima kenyataan ini. Seperti juga para pasien lain yang pada umumnya setelah mendengar vonis dokter, tangan dan kaki akan gemetaran, dia berharap keajaiban dapat muncul dan sembuh dari penyakitnya, tidak berharap kehidupan ini berakhir, tidak ingin berpisah dengan keluarganya. Maka itu sebagus apapun Alam Sukhavati, dia juga tidak sudi ke sana, inilah kondisi manusia pada umumnya.


Ketika tubuhnya masih sehat, dia tidak ingin memilikirkan masalah bahwa “suatu hari nanti kehidupan ini pasti berakhir”, juga tidak berminat untuk menerima maitri karuna Buddha Amitabha. Sikap ini dapat kita maklumi, sebagian besar orang juga sedemikian. Dalam keadaan serupa ini jika begitu bertatap muka langsung minta dia melepaskan kemelekatan dan bertekad lahir ke Alam Sukhavati, mungkin saja kehendaknya adalah memohon penyembuhan, maka itu dia akan menentang maksud baik kita, sehingga merusak jodohnya dengan Buddha. Maka itu saya menuruti keinginannya, memberikan perhatian agar emosi pasien selalu stabil, menjaganya agar jangan ada rasa takut atau perasaan diabaikan, sendirian menuju jalan kematian yang ditakutkan setiap insan, saya senantiasa menasehati pasien : “Jangan cemas, sesulit apapun jalan yang akan ditempuh, kami akan menemanimu melangkah ke sana, Buddha Amitabha akan menuntun kita, melewati perjalanan ini dengan selamat”. Bahkan juga menekankan bahwa Buddha Amitabha adalah Cahaya Sukacita, Cahaya Kebijaksanaan, Cahaya Maitri Karuna,……………..Buddha Amitabha adalah cahaya tanpa batas dan usia tanpa batas, jika melafal sampai terjalin denganNya maka akan melenyapkan malapetaka dan memperpanjang usia.


Atau mungkin saja jalinan jodoh masing-masing tidak sama, masing-masing memiliki jembatan penyeberang dan perahu penyelamat yang berbeda-beda, walaupun Buddha Amitabha juga dapat melenyapkan malapetaka dan memperpanjang usia, namun mulanya Upasaka Chen lebih suka pada Buddha Bhaisajyaguru (yang juga merupakan Buddha yang melenyapkan malapetaka dan memperpanjang usia). Setiap pasien suka pada melenyapkan malapetaka dan memperpanjang usia, jarang sekali ada pasien yang begitu jatuh sakit langsung menyadari ketidakkekalan, dan langsung mempersiapkan urusan menjelang ajal yang harus dilalui oleh setiap manusia, maka itu harus menuruti keinginan insan lain, membimbing mengikuti jodoh.


Di dalam Sutra Bhaisajyaguru tercantum sebuah kalimat yang amat bermakna, dimana tertera bahwa Buddha Bhaisajyaguru sendiri juga membantu para makhluk untuk terlahir ke Alam Sukhavati, apabila makhluk tersebut sebelumnya telah membangkitkan tekad untuk terlahir di Alam Sukhavati, namun mereka masih belum memiliki keyakinan penuh, yang belum mencapai tahap “pikiran terfokus tak tergoyahkan”, jika dapat mengamalkan “Atthanga Sila“ selama tiga bulan, dan lagi dapat mendengar nama Buddha “Bhaisajyaguru Vaidurya Prabhasa Tathagata”, saat menjelang ajal, Buddha Bhaisajyaguru akan bersama dengan delapan Bodhisattvaya Mahasattvaya muncul dan menuntun jalan sehingga makhluk tersebut sesuai dengan niatnya dapat terlahir ke Alam Sukhavati.


Dari kalimat sutra tersebut dapat kita ketahui bahwa walaupun Buddha Bhaisajyaguru adalah pengajar utama di Alam “Vaidūryanirbhāsā“ yang terletak di penjuru timur, namun karena Hati Buddha amat lapang dan luas, takkan membedakan satu sama lain, namun menyesuaikan dengan kekuatan tekad dan jalinan jodoh para makhluk serta menwujudkan bimbingan yang paling unggul. Setiap Buddha merupakan kepala sekolah penyelamat besar yang bermaitri karuna, mereka amat bersukacita saling memperkenalkan siswa-siswanya untuk saling belajar, takkan ada pembagian partai, saling berebutan. Kondisi dan jalinan jodoh yang bagaimana yang dapat membantu makhluk tersebut, sehingga dia akan memperoleh manfaat dan keberhasilan terbesar, maka dengan dengan demikianlah Buddha akan menuntunnya.


Maka itu bukan hanya dengan melafal Amituofo barulah dapat terlahir ke Alam Sukhavati, namun sesuai dengan keinginan juga dapat terkabulkan, dengan melafal Sutra Bhaisajyaguru atau nama Buddha Bhaisajyaguru lalu melimpahkan jasa kebajikan ke Alam Sukhavati, niatnya juga dapat terwujud. Bahkan walaupun melafal sutra Mahayana lainnya, asalkan jasa kebajikannya dilimpahkan  ke Alam Sukhavati, keinginannya untuk terlahir ke Alam Sukhavati juga dapat terkabul, ini ibaratnya berasal dari SMA berlainan mengikuti ujian masuk ke perguruan tinggi yang sama, asalkan keyakinan dan tekadnya memperoleh nilai sepuluh, maka akan diterima, terlahir ke Alam Sukhavati adalah hal yang nyata dan benar, setiap insan dapat memilikinya, jadi tidak perlu ragu dan khawatir.


Maka itu Upasaka Chen suka membaca Sutra Bhaisajyaguru, Sutra Ksitigarbha, karena itu saya tidak memaksakan dia agar harus membaca Amitabha Sutra atau sutra Aliran Sukhavati lainnya, hanya menganjurkan agar jasa kebajikan dari membaca sutra dilimpahkan dengan bertekad lahir ke Alam Sukhavati, Buddha Bhaisajyaguru juga akan membantu kita terlahir ke Alam Sukhavati!                   



Dikutip dari : Ceramah Master Dao Zheng
Judul :  Menebar Senyum Memasuki Kolam Tujuh Mustika