Jumat, 24 Mei 2013

Teratai Mustika Yang Cacat 05



Mengapa Kita Tidak Bahagia?

Mari kita pikirkan, mengapa kita tak bahagia? Mungkin kita kehilangan sesuatu yang kita sukai, atau yang sangat  berharga, atau orang yang kita sayangi; contohnya bila suami memiliki wanita lain dan tidak pulang ke rumah, atau teman baik anda salah paham pada dirimu, anda kehilangan teman baik; atau mendengar kritikan pedas terhadap diri anda; atau hasil kerja yang tidak sesuai dengan keinginan anda; atau kehilangan kesempatan baik atau tidak mendapat perhatian; sampai pada perlakuan yang tak adil pada diri anda. Kita tidak pernah berpikir mengapa kejadian-kejadian ini bisa membuat kita tak bahagia?


Sebuah “Nilai”Yang Membuat Kita Tak Bahagia.

Jika hari ini anda kehilangan sesuatu yang tidak anda sukai, maka kita akan merasa biasa saja, takkan merasa sedih, karena anda merasa benda tersebut tak bernilai bagi diri anda.

Namun jika hari ini orang lain kehilangan suaminya, anda juga tidak merasa sedih, dan tidak akan berpengaruh apa-apa pada diri anda. Karena suami orang tidak penting bagi anda, anda tidak merasa itu bernilai bagi anda, walaupun diberikan kepada anda, anda juga tidak mau, jadi walaupun kehilangan juga tak masalah!

Kadang kala ada ucapan yang terdengar kurang nyaman bagi diri anda, misalnya perkataan yang menjelekkan diri kita, jika orang lain mengatakan : “Mengapa anda begitu bodoh! Nilai apa yang anda peroleh dari hasil ujian ini!”, setelah mendengar ucapan ini kita akan merasa sangat sedih. Pertama, karena perkataan ini ditujukan pada “saya” , disebabkan kita melekat pada keakuan, namun sebaliknya jika kritikan pedas itu ditujukan pada orang lain, maka kita takkan bersedih hati. Yang kedua karena kita menganggap kata “bodoh”, adalah kata yang negatif, dan kata “pintar”, “hebat” barulah positif. Karena pandangan kita ini, yang menganggap kata “bodoh” tidak memiliki nilai, kata “hebat” barulah bernilai, barulah kritikan pedas itu dapat membuat diri kita tidak senang.


Manakah Yang Lebih Bernilai?

Benarkah kata “hebat” lebih bernilai dan kata “bodoh” tak memiliki nilai? Apakah orang yang lebih berprestasi lebih memiliki nilai daripada mereka yang kurang berprestasi? Ini tidak mutlak. Semasa kecil saya juga berpikir demikian namun sekarang sudah tidak lagi, saya membuang semua pemikiran ini. Sebagian ayahbunda mengatakan pada saya, semula mereka menganggap bahwa memiliki anak  yang berprestasi adalah hal yang baik, namun pada akhirnya anak-anak itu melanjutkan sekolah ke luar negeri, tidak satu pun yang tinggal di samping ayahbunda, ketika ayahbunda lanjut usia, sakit-sakitan dan tidak leluasa bergerak, hanya tinggal anak-anak yang kurang berprestasi, yang tidak mampu melanjutkan pendidikan di luar negeri, yang merawat mereka. Jadi menurut anda, manakah yang lebih bernilai?



Dikutip dari ceramah Master Dao-zheng :  “Teratai Mustika Yang Cacat”.