Sabtu, 01 Juni 2013

Kelompok Gangster Berubah Menjadi Pesamuan Kolam Teratai 017


Membahas beberapa tradisi kepercayaan (bagian 4)

Apakah melafal Amituofo masih perlu percaya pada ramalan nasib dan feng-shui?


Nasib diciptakan oleh pikiran, rupa berubah menuruti perubahan hati.
Mengubah niat pikiran, ucapan, sikap, nasib pun ikut berubah!


Banyak praktisi Nian-fo yang suka percaya pada ramalan nasib dan feng-shui. Mendengar kabar burung di jalanan, segera membantu menyebarkannya. Kepercayaan yang membabi buta ini, sesungguhnya adalah karena “tidak memiliki keyakinan yang benar”. Kami tidak menyangkal bahwa nasib bisa diramal, lalu mengapa ada nasib orang yang bisa diramal? Ini dikarenakan adanya hukum sebab akibat, dari sebab masa lampau, bisa meramal akibat yang akan datang, ibarat petani yang sudah berpengalaman, bisa meramalkan dari benih yang ditebar dan faktor cuaca, meramalkan kapan masa panen.


Namun dengan adanya hukum sebab akibat, maka nasib pun bisa diubah, dengan mengubah sebab dan faktor pendukung, maka dapat mengubah buah akibatnya. Kita melafal Amituofo adalah sedang memperbaiki “benih sebab”, dalam nasib yang terpenting adalah benih, yakni “niat pikiran”, dengan mengubah niat pikiran, maka mengubah ucapan dan sikap. Anda jangan meremehkan bahwa dengan mengubah sebuah ucapan dan sebuah sikap, maka nasib pun ikut berubah, bila tak percaya, anda boleh melakukan eksperimen berikut ini.


Ketika bos anda menyalahkan diri anda, cobalah memakai sikap yang tulus mengucapkan : “Maafkan saya, ini adalah kesalahan saya, terimakasih atas petunjuk anda, saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk memperbaikinya”. Bagaimana pula sebaliknya bila anda menggelengkan kepala dan dengan muka yang tidak ramah mengucapkan : “Saya telah berusaha keras, bila tidak, anda coba lihat saja, anda sendiri juga tidak bisa mengerjakannya dengan baik”. Dua macam niat pikiran yang berbeda ini, ucapan dan sikapnya, langsung akan berakibat pada nasib yang berbeda. Maka itu disebut nasib diciptakan dari pikiran, rupa berubah menuruti perubahan hati. Juga karena dapat diciptakan, dapat dialihkan, maka melafal Amituofo jadi lebih bermakna, jika tidak maka semuanya akan jadi sebuah ketetapan, tidak memiliki cara untuk mengubahnya, maka melatih diri jadi tiada gunanya lagi.


Feng-shui diciptakan dari pikiran

Tempat berberkah ditempati insan berberkah, insan berberkah menempati tempat berberkah


Sebuah tempat yang berpemandangan indah, jika dihuni oleh orang yang tidak memiliki jasa kebajikan, sembarangan membuang sampah, membuat polusi, sembarangan menyemprot pestisida..........maka tak perlu waktu lama, pemandangan indah pun jadi rusak.


Sebaliknya bila ada tempat yang biasa-biasa saja, andaikata dihuni oleh insan yang memiliki jasa kebajikan, menjaga kelestarian alam, memupuk jasa kebajikan, sehingga tetangganya juga ikut meneladani kebajikannya, maka lama-kelamaan tempat itu pasti akan berubah kondisinya, sehingga feng-shui juga akan berubah.


Maka itu dikatakan : “Tempat berberkah ditempati insan berberkah, insan berberkah menempati tempat berberkah”.


Sebuah rumah kosong yang hendak dijadikan bar atau vihara, niat pikirannya berbeda, karena niat pikiran berbeda maka gelombang pikiran yang dipancarkan juga berbeda, sehingga kondisinya juga akan berbeda, maka ini juga yang disebut feng-shui yang berbeda. Dan lagipula benih sebab dari feng-shui adalah niat pikiran (gelombang pikiran), maka itu untuk meramal feng-shui tidak perlu memohon bantuan orang lain, namun dengan pikiran benar, maka kondisi dan feng-shui akan berubah. Sebaliknya bila pikiran tidak benar, maka feng-shui yang sebagus apapun juga akan menjadi rusak.


Manusia suka mengunjungi tempat yang ber feng-shui jelek.


Jujur saja, banyak vihara yang dibangun diatas tempat yang memiliki feng-shui terbaik, namun banyak insan yang tidak bisa bertahan lama tinggal di sana, mereka malah sudi lari ke tempat yang memiliki feng-shui yang jelek, yakni tempat judi, dan tempat maksiat yang gelap gulita, serta mall yang berpolusi tinggi, mereka suka feng-shui yang demikian.


Melatih pikiran menciptakan feng-shui yang baik (Gratis!)


Sebagian besar manusia lebih suka mempercayai ucapan ahli feng-shui, terutama dalam soal pemakaman, harus melihat feng-shui, anak cucu sangat berharap agar leluhurnya dimakamkan di tempat yang dapat memberi keuntungan bagi mereka pribadi, namun tidak peduli apakah roh leluhurnya telah mencapai alam bahagia atau tidak. Semuanya yakin bahwa feng-shui leluhur dapat mempengaruhi rezeki sendiri, namun tidak mengkaji kembali bagaimana niat pikiran sendiri, apakah dapat mempengaruhi leluhur? Apakah akan memalukan leluhur? Apakah akan merusak feng-shui? Mengapa anda rela menghamburkan sejumlah uang untuk mengundang ahli feng-shui, namun malah tak sudi “melatih pikiran”, mengubah feng-shui (gratis!).


Perenungan disela lelucon


Terkadang kita akan membuat lelucon : “Jika memang feng-shui memiliki pengaruh, maka ahli feng-shui akan mencari feng-shui yang terbaik sehingga apa yang diinginkannya bisa terwujud, misalnya jadi raja, presiden, setiap keturunannya jadi sarjana, bangsawan dan sebagainya. Namun kenyataannya sungguh ironis, patut kita renungkan.


Kadang kala, saya iseng-iseng bertanya pada mereka yang amat melekat pada feng-shui : “Kita mengubur jasad, sebagian orang sangat menitikberatkan pada feng-shui, waktu penguburan, arah dan sebagainya, yang ingin saya tanyakan apakah waktu anda makan daging apakah juga melihat feng-shui terlebih dulu? Karena daging juga adalah mayat, bila pemakaman jasad begitu memiliki kekuatan pengaruh yang besar, maka waktu mayat hendak dikuburkan ke dalam perut anda, apakah anda juga melihat feng-shui terlebih dahulu? Jika tidak, nanti waktunya tidak sesuai kemudian shio nya tak cocok, bukankah akan terjadi “chong” (berbenturan dengan hawa jahat)?


Gudang penyimpanan beku di pasar, berisikan banyak “mayat-mayat” hewan, begitu banyak orang yang lalu lalang di sana, mengapa mereka tidak takut “chong” (berbenturan dengan hawa jahat)? Mengapa pula tidak ada yang mempermasalahkan feng-shui di sana? Apa pengaruhnya bagi kita. Ketika makanan sudah diutamakan, maka feng-shui pun jadi dilupakan.


Bagaimana cara untuk menjadi orang terkaya di kota anda?


Ada sepasang suami isteri bermarga Lin memberitahukan kami, ada seorang ahli ramal pernah mengajarkan mereka bila pada hari, bulan dan tahun tertentu mereka pergi membeli 12 batang sapu, kemudian pulang dan menyapu rumah dengan cara menghadap arah tertentu, kemudian dibuang ke laut, maka rezeki akan mengalir seperti air laut, sehingga akan menjadi orang terkaya di kotanya. Setelah mendengar ucapan ini, mereka tertawa dan menjawab : “Kami telah merupakan orang terkaya di  kota kami, karena kami telah memahami ajaran Buddha”. Untunglah mereka tidak menuruti kata peramal itu, bila tidak maka sia-sia saja mereka mendengarkan ceramah Dharma!


Coba pikirkan, bila cara itu bisa membuahkan hasil, bukankah peramal itu telah menjadi orang terkaya di dunia? Cara tersebut hanya memiliki satu hasil saja yakni lantai jadi bersih!


Anda percaya pada cincin atau pada Buddha?


Peramal itu juga mengajarkannya agar pada waktu tertentu, menghadap ke arah tertentu, tangan kiri jari ke 4 harus memakai cincin emas yang harus dipesan terlebih dulu, dipasang berlian warna hitam, dengan demikian baru bisa terhindar dari kecelakaan mobil. Untunglah Upasaka Lin ini memiliki keyakinan benar : “Saya melafal Amituofo, kekuatannya pasti lebih besar daripada cincin ini”. Karena kecelakaan mobil sangat berkaitan dengan “kesadaran”, jika kita melafal Amituofo, pikiran kita tidak berkhayal tentu saja sangat sadar, dan bercahaya, dengan sendirinya akan terhindar dari malapetaka. Jika memakai cincin sakti namun sambil menyetir sambil mengantuk, maka tidak mungkin bisa aman! Apalagi melanggar peraturan lalu lintas maka akan lebih berbahaya lagi!


Kemudian kami bertanya lagi pada umat lainnya, banyak yang tidak memiliki keyakinan yang sedemikian, bila mendengar ucapan peramal, mereka akan langsung ketakutan akan mengalami kecelakaan, maka itu lebih baik menuruti anjuran peramal, memakai cincin tersebut, mereka ini tidak memilki keyakinan yang benar, juga tidak memahami bahwa segalanya tercipta dari pikiran. Juga telah mengabaikan kekuatan Buddha tak sebanding dengan sebuah cincin, juga tak sebanding dengan kekuatan si tukang ramal. (Benar-benar telah meremehkan Buddha!)


Masalah besar diantara masalah kecil


Tampaknya ini hanya masalah sepele, cuma memakai cincin saja,  menyingkirkan tanaman bonsai, melihat feng-shui, memilih hari saja, namun bila dilihat dari keyakinan pada Buddha, maka ini merupakan masalah besar yang dapat merintangi kita untuk terlahir ke Alam Sukhavati, maka itu harus baik-baik mengkaji kembali  “keyakinan” dan “tekad”.


Dikutip dari Ceramah Master Dao-zheng :
Kelompok Gangster Berubah Menjadi Pesamuan Kolam Teratai

道證法師 ~ 黑社會變蓮池海會