Selasa, 29 Oktober 2013

Menebar Senyum 01


Menebar Senyum Memasuki Kolam Tujuh Mustika
Kisah Chen Jin-chi
Bagian 1

Tokoh utama dalam kisah nyata ini adalah Chen Jin-chi. Jin artinya masuk, sedangkan chi artinya kolam. Menurut penuturan istrinya, pada mulanya nama yang bermakna demikian tidak memiliki masa depan yang bagus, makanya mereka bermaksud untuk mengganti nama. Tidak disangka pada detik yang amat penting, barulah tahu bahwa nama yang bermakna “masuk ke kolam” ini ternyata bertanda baik, masuk ke kolam tujuh mustika di Alam Sukhavati. Dapat memasuki kolam tujuh mustika Buddha Amitabha berarti dia dapat mencapai KeBuddhaan dan menyelamatkan para makhluk; ini adalah masa depan yang gemilang!

Mengapa kita memperkenalkan Bodhisattva ini? Dia adalah pasien penderita kanker limfoma yang secara perlahan menyebar menyerang seluruh tubuhnya. Namun drama yang pada awalnya dikira akan berakhir dengan menyedihkan ini, melalui pemberkatan kekuatan Buddha akhirnya menjadi drama yang berakhir denga penuh  sukacita.

Saat menjelang ajalnya, setiap insan yang hadir untuk membantunya melafal Amituofo, tiada satupun yang tidak merasa bersukacita untuknya, karena pada detik terakhir, dia mampu mengangkat tangannya yang sudah mati rasa, kemudian melambaikan tangan sambil tersenyum pada semua hadirin. Sejak mengetahui penyakit yang dideritanya, dia tidak pernah tersenyum, senyumannya ini, sampai sang istri yang sedang melafal Amituofo, dalam sekejab seluruh kerisauannya jadi lenyap, akhirnya juga turut menebarkan senyum sambil melafal Amituofo!

Demikianlah dia mengakhiri peranannya dan dengan tersenyum mengikuti Buddha Amitabha memasuki kolam tujuh mustika. Dia pernah memiliki tekad besar, yakni ingin membantu para pasien lainnya yang senasib dan seluruh pasien lainnya dengan tahap-tahap saat dirinya akan terlahir ke Alam Sukhavati, kebetulan dapat membuktikan kalimat-kalimat yang tercantum dalam sutra Buddha, sehingga dapat membangkitkan keyakinan pada mereka yang belum memiliki keyakinan sepenuhnya.

Istrinya yang baik, dan dua orang anak yang berbakti, saat dirinya jatuh sakit, terus memberi dukungan padanya, ketika tangannya pegal karena kanker, anaknya segera membantu memijatnya, menjaganya siang malam, tidak hanya menjaganya, namun juga terus memotivasinya untuk membangkitkan keyakinan pada Buddha, akhirnya menjadi barisan yang mengantarnya ke Alam Sukhavati untuk mencapai KeBuddhaan, sehingga pada kelahiran ini dia memperoleh manfaat yang terbesar dan keberhasilan yang tertinggi. Dapat dilihat Chen Jin-chi begitu berterimakasih pada keluarganya, bagaimana keluarganya menjadi keluarga teladan, mengantarnya dari tempat penuh penderitaan ini ke pantai seberang. Semangat mereka patut kita teladani, karena itu mengapa saya memperkenalkan kisah ini di sini:

20 tahun yang lalu saya telah mengenal Upasaka Chen, beliau adalah sahabat abang saya, pertama kali bertemu saya merasa dia amat jujur dan bepengertian. Pada saat itu saya bilang ke abang saya : “Diantara teman-temanmu, tampaknya Chen Jin-chi yang paling tulus”. Sejak itu saya tidak berkesempatan bertemu Chen Jin-chi lagi. Sampai akhirnya di punggung belakangnya muncul tumbuh tumor sebesar kepiting. Saat pertama berpapasan dengannya, kebetulan dia sedang diopname di rumah sakit, hatinya merasa amat menderita dan sangat tegang, dia memberitahuku : ”Di ranjang sebelah sini  terdengar nafas sepenggal-penggal, di ranjang sebelah sana tinggal tulang terbalut kulit, saya merasa amat takut”. Dia melanjutkan lagi : “Saya tidak ingin hidup demikian, saya tidak ingin hidupku berakhir dengan cara demikian”.

Saya berkata padanya : “Hanya dengan yakin pada Buddha dan melafal Amituofo, maka takkan ada ketakutan lagi! Cobalah berpikir dengan seksama, setelah divonis kanker maka harus bagaimana melewati hari-hari? Tiada lain, mulai sekarang mengerahkan segenap kemampuan melewati kehidupan dengan sukacita, sampai pada detik terakhir, dengan penuh sukacita mengikuti Buddha Amitabha terlahir ke Alam Sukhavati melewati kehidupan yang lebih bahagia, ini yang paling baik. Apakah anda ada cara yang lebih baik?” Setelah mendengar ucapanku, dia tertawa, sepertinya dia telah tercerahkan, dan kemudian dia berkata : “Betul, sakit juga boleh melewati hari-hari dengan sukacita, jangan berpikir sembarangan untuk menakuti diri sendiri, hari-hari masih cemerlang”.  Kami berbincang panjang lebar, walaupun jalan hidup penuh liku-liku, namun kita masih dapat menggunakan suasana hati yang baik untuk melewatinya.

Akhirnya dia berkata padaku : “Di Kaohsiung saya memiliki beberapa kenalan, saya ingin menyewa hall besar di sana, saya ingin menghubungi para dokter di rumah sakit agar memberitahukan para pasien yang senasib denganku, untuk mengundang mereka agar bersama-sama, saya ingin agar ucapan anda tadi juga dapat disampaikan kepada mereka semuanya, agar mereka dapat mengakhiri kegelapan, ketakutan dan kehilangan arah”. Dia amat serius sampai mengucapkannya tiga kali. Namun saat itu saya merasa masih belum memiliki kekuatan itu, maka hanya senyum-senyum berkata padanya : “Anda memiliki niat ini adalah hati maha karuna, Bodhicitta, dengan hati ini melafal Amituofo, maka akan terjalin dengan Hati Buddha. Kita harus mengamalkan apa yang diajarkan oleh Buddha, apalagi dapat membuktikan Ajaran Buddha, maka semua orang akan percaya. Mereka akan memiliki keyakinan pada Buddha, dengan sendirinya takkan takut lagi, maka ini barulah dapat membantu mereka”.

Kini pada detik terakhirnya, dia memperoleh penjemputan dari Buddha Amitabha, dari wajahnya terpancar senyuman dan lambaian tangan, dengan penuh sukacita menuju Alam Sukhavati dan kuliah di sana. Drama yang penuh sukacita ini, sungguh telah menenangkan hati banyak insan, menwujudkan tekad maitri karunanya untuk membantu para pasien lainnya. Keberhasilannya ini telah memotivasi mereka yang telah putus asa, kini saya akan menceritakan pengalamannya untuk kita simak bersama, juga untuk menwujudkan tekadnya, serta memberitahukan kita semua bahwa kita juga dapat serupa dengannya, menebar senyum memasuki kolam tujuh mustika.

Dikutip dari : Ceramah Master Dao Zheng
Judul :  Menebar Senyum Memasuki Kolam Tujuh Mustika