Rabu, 30 Oktober 2013

Menebar Senyum 04



Menebar Senyum Memasuki Kolam Tujuh Mustika
Kisah Chen Jin-chi
Bagian 4


Nyonya Chen memiliki sepatah kata yang bagus, yang dapat memotivasi pasien yang telah putus asa; dia berkata : “Oleh karena saya terlalu mencintai suamiku, tidak tega melihatnya menderita, maka itu saya menyerahkan hatiku yang mencintainya ini kepada Buddha Amitabha, agar dia jangan menderita lagi, mencapai KeBuddhaan dan menyelamatkan semua makhluk”. Betapa baiknya niat hatinya ini, betapa patut dirinya itu dipuji karena telah mengubah cinta individunya menjadi maha karuna Buddha; dari cinta individu maupun jalinan kasih antar keluarga, ditingkatkan menjadi jalinan keluarga Bodhi yang melangkah di Jalan KeBuddhaan.


Dia merupakan istri yang berbudi luhur, mendampingi suaminya melewati jalanan berliku-liku, sampai pada saat menjelang ajal dan membantunya melafal Amituofo, walaupun lelah sekalipun dia juga tidak berani beristirahat, tubuhnya kurus sampai hanya tersisa 30 kg lebih. Wanita kurus dan lemah ini telah menwujudkan semangat Bodhisattva, mengantar suaminya mengakhiri penderitaan dan memperoleh kebahagiaan buat selama-lamanya, dengan senyum dan lambaian tangan pergi ke Alam Sukhavati, menanti kedatangan sang istri, keluarga dan seluruh makhluk di Alam Sukhavati. 


Dan akhir yang menyenangkan dari kisah ini, diantaranya tidaklah semulus yang kita bayangkan, namun juga penuh dengan liku-liku. Karena hati orang awam tidaklah kekal, ketika “kekuatan kesabaran” belum sempurna, terkadang juga akan mengalami kemunduran. Ketika pasien karena penderitaan sakitnya dan keyakinannya jadi goyah, tidak dapat meneruskan melafal Amituofo lagi, maka peranan orang-orang di sekitarnya amat penting, haruslah dengan maitri karuna dan kelembutan untuk mengerti akan penderitaannya, agar pasien tahu bahwa mereka merasakan apa yang dideritanya, kemudian baru memotivasinya agar membangkitkan kembali keyakinannya; jangan malah sebaliknya menyalahkan diri si pasien dan merasa kecewa pada dirinya, serta mengabaikannya.


Orang-orang yang berada di sekelilingnya, harus membandingkan dirinya dengan si pasien, andaikata saya juga berada dalam kondisi yang sama dengannya, saya akan bagaimana? Apakah keyakinanku juga takkan berubah, kemudian senantiasa tersenyum? Andaikata kita saja tidak bisa, maka ketika keyakinan pasien goyah, kita harus memakluminya, ini merupakan kesempatan bagi kita untuk memupuk berkah dan kebijaksanaan. 
 

Nyonya Chen begitu telaten menwujudkan hal ini, dia menggunakan hatinya untuk memaklumi bahkan juga mewakili suaminya untuk melakukan pertobatan. Kekuatan dari ketulusan sungguh tak terbayangkan, bertobat dan memohon perlindungan dari Buddha juga merupakan kekuatan yang tak terbayangkan. Ketika kita diperlakukan dengan tidak adil dan tidak menyenangkan, janganlah bersedih, gunakanlah ketulusan hati untuk bertobat, memohon bimbingan dari Buddha, ketahuilah kita tidak kurang sesuatu apapun dari Buddha, kita hanya kelebihan sedikit benda kotor yakni “lobha, dosa, moha, keangkuhan dan kecurigaan”. Bila kita sudi membersihkannya maka Jiwa KeBuddhaan yang cemerlang akan muncul keluar.


Pada tahun 85 musim dingin, karena sel kankernya telah menyerang ke bagian otak sehingga dia sulit bersuara, lengan tangannya mati rasa. Selama ini dia begitu sehat, tiba-tiba divonis kanker, membuatnya amat menderita dan risau, karena emosinya labil maka sulit untuk menfokuskan diri melafal Amituofo. Dalam hatinya menyalahkan Buddha dan Bodhisattva yang tidak membuat pengaturan yang baik buat dirinya, begitu emosi tasbih pun langsung dilepaskannya.


Sedangkan Buddha dan Bodhisattva begitu bermaitri karuna, selalu tidak tega melihat penderitaan para makhluk, terhadap para makhluk senantiasa memiliki hati bagaikan ayahbunda yang merisaukan anak-anaknya, walaupun penderitaan para makhluk yang dikarenakan perbuatannya di masa kelahiran lampau; namun masih menyalahkan Buddha dan Bodhisattva, tetapi Buddha dan Bodhisattva masih tetap ingin mewakili para makhluk menerima penderitaan mereka, menanti sampai saat yang tepat untuk mempengaruhinya.


Kebetulan sekali ketika Upasaka Chen sudah tidak mampu mempertahankan keyakinannya yang telah goyah, mungkin juga ini adalah wujud dari doa mereka setiap hari kepada Buddha dan Bodhisattva, saya bermimpi melihat Upasaka Chen menangis kesakitan. Maka itu saya segera menelepon ke rumahnya dan putranya menjawab bahwa ayahnya sedang diantar ke Unit Gawat Darurat di rumah sakit, Nyonya Chen menyampaikan salam saya kepadanya di UGD dan dia menangis seperti seorang anak-anak. Saya mengunjunginya, dia berkata padaku dengan gaya yang agak lucu : “Saya sudah bilang ke Buddha dan Bodhisattva, saya sudah menyerah, tidak ingin melafal Amituofo lagi, akhirnya setelah Buddha dan Bodhisattva tahu akan hal ini, anda juga diberitahu Mereka. Sekarang jalinan komunikasi antara diriku dengan Buddha lancar kembali, saya akan melafal Amituofo lagi, walaupun saya tidak dapat melafal dengan bersuara, namun aku akan melafalnya di dalam hati”.


   Mendengar ucapannya serta perjuangan berat keluarganya, saya sungguh merasa sedih dan perih, hanya dapat berkata padanya : “Jalan ini sungguh sulit, untunglah ada Buddha Amitabha ikut serta”. Setelah itu dia menangis dan saya juga turut menangis. Kita adalah manusia yang memiliki darah dan airmata, Buddha akan memaafkan kita, hapuslah airmata dan melangkah lagi ke depan, kita semua saling membantu dengan penuh sukacita pulang ke kampung halaman Alam Sukhavati. Menangis sejenak, beban di hati pupus sudah, saya mencoba berbincang dengannya : “Saat menderita kita juga harus memikirkan pada masa lampau kita juga membuat makhluk lain menderita, kini saya telah merasakannya sendiri, maka itu dengan tulus kita meminta maaf pada mereka, bertobat, melafal Amituofo dan melimpahkan jasa kebajikan ini agar mereka memperoleh kedamaian”. Dia menganggukkan kepalanya dan mengiyakan.


Segala penderitaan dan kegelapan pasti akan berlalu, seperti khayalan dan bayangan, asalkan kita bertekad ke arah yang gemilang, bertobat dengan setulusnya. “Semua karma buruk yang dilakukan di masa kelahiran lampau, yang berasal dari lobha, dosa dan moha yang tanpa awal, yang diperbuat melalui tubuh, ucapan dan pikiran, kini saya bertobat atas semua ini”. Karma buruk yang kita lakukan di masa lampau, karena di hati kita ada ketamakan, amarah dan kebodohan, dan lobha, dosa, moha ini menggerakan kita untuk berbuat melalui pikiran, ucapan dan tindakan, yang melukai makhluk lain, sehingga makhluk lain menjadi menderita. Dan kini penderitaan itu kembali pada diri kita sendiri, kita harus segera bertobat. Andaikata anda atau keluarga anda memiliki keyakinan yang tidak kokoh, janganlah berkecil hati, pikirkanlah bagaimana Upasaka Chen juga sedemikian menjalaninya. Ketika kita berniat kembali melafal Amituofo, Buddha juga akan bermaitri karuna mengulurkan tanganNya, lihat saja Upasaka Chen ini, dia masih dapat tersenyum bergandengan tangan dengan Buddha pulang ke Alam Sukhavati. 
         

Dikutip dari : Ceramah Master Dao Zheng
Judul :  Menebar Senyum Memasuki Kolam Tujuh Mustika