Jumat, 01 November 2013

Menebar Senyum 06

Menebar Senyum Memasuki Kolam Tujuh Mustika
Kisah Chen Jin-chi
Bagian 6


Setiap kalimat yang tercantum dalam sutra adalah nyata dan tidak semu, apa yang diucapkan Buddha pasti akan menjadi kenyataan, hanya saja sampai di mana anda dapat membangkitkan keyakinan dan mengamalkannya. Bagi kita yang yakin pada kekuatan tekad maitri karuna Buddha maka dalam seketika juga hidup di dalam Cahaya Buddha, jika tidak dapat menimbulkan keyakinan maka akan hidup dalam bayangan gelap rintangan karma. Insan yang yakin sepenuhnya, maka masa depannya bersinar terang; sedangkan insa yang yakin setengah hati maka masa depannya adalah setengah terang dan setengah redup. Yang paling penting adalah, asalkan ada keraguan maka akan masuk ke kegelapan, maka itu harus lekas membangkitkan keyakinan hati, membuang kegelapan dan menuju cahaya gemilang.


 Sekitar 5-6 hari sebelum kepergian Upasaka Chen, dikarenakan sel kanker telah menyerang lambungnya hingga mengeluarkan darah, para dokter juga tidak bisa memastikan apakah mampu menghentikan pendarahan ini. Jika kita panik dan melupakan Buddha maka akan jatuh ke dalam kegelapan, dan mengikuti kekuatan karma bertumimbal lahir untuk menyelesaikan semua hutang piutang. Masa kelahiran lampau kita memakan daging makhluk lain, kehidupan kini kita harus membayarnya, masa lalu kita begitu menginginkan makanan bergizi, sehingga membunuh makhluk lain, ini juga harus dibayar, ketika harus melunasi hutang  barulah kita tahu akan penderitaan.


 Jujur saja walau hanya satu saja nyawa yang melayang, kita juga tidak mampu melunasinya; maka itu kita harus menyadari bahwa lebih baik saat menjelang ajal harus membayar hutang, atau saat masih hidup cepat-cepat melunasinya! Andaikata karma telah berbuah, apa yang harus dilakukan? Jika dapat mengerahkan segenap tenaga melafal Amituofo, maka kekuatan jasa kebajikan dan kewibawaanNya tak terbayangkan, sepatah Amituofo dapat melenyapkan delapan miliar kalpa karma buruk berat tumimbal lahir, mewakili kita untuk melunasi hutang-hutang karma kita, tak perlu khawatir tidak mampu sekaligus melunasi semuanya.


Saya sendiri begitu yakin akan hal ini, maka itu ketika Nyonya Chen menghubungiku,  dengan keyakinan yang pasti, saya memberitahukan dirinya : “Menfokuskan pikiran melafal Amituofo, pendarahan akan berhenti, kekuatan Buddha tak terbayangkan”. Ternyata Nyonya Chen demi menyelamatkan suaminya, dia melafal Amituofo dengan setulusnya, tidak lama kemudian pendarahan berhasil berhenti, tekanan darahnya juga kembali normal.


Nyonya Chen bertanya pada suaminya : “Apakah anda telah bertemu dengan Buddha Amitabha?” Upasaka Chen menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian dia bertanya lagi : “Apakah anda telah melihat Bodhisattva Avalokitesvara?” Lagi-lagi dia menggelengkan kepala, namun dia menjawab telah melihat Bodhisattva Mahasthamaprapta, dan beberapa Bodhisattva lainnya, suaranya terdengar begitu lemah sepertinya menyebut nama beberapa Bodhisattva tersebut.


Setiap hari Nyonya Chen begitu sibuk mengurus bisnis dan rumahtangganya, tidak memiliki waktu untuk membaca sutra, sehingga dia tidak mengenal nama-nama Bodhisattva yang diucapkan suaminya itu. Begitu mendengarnya, saya langsung bisa mengetahui bahwa itu adalah delapan Maha Bodhisattva yang disebut dalam Sutra Bhaisajyaguru, telah terjalin dengan dirinya, mungkin waktunya telah semakin dekat untuk terlahir ke Alam Sukhavati.


Karena saya pernah berjanji padanya : “Kami akan mendampingimu melewati jalan ini, kita akan dengan selamat kembali ke dalam pelukan Buddha, anda jangan khawatir”. Maka itu saya harus menwujudkan janji ini. Nyonya Chen sendiri pernah memimpikan kami sebanyak tiga kali, kini tiba waktunya untuk mempersiapkan urusan menjelang ajal dan membantunya melafal Amtituofo. Menurut penuturannya sejak bertemu Bodhisattva, tidak ada pendarahan lagi. Tubuhnya juga amat bersih, mulanya masih harus disuntik anti sakit, sekarang tidak perlu lagi; boleh dikatakan kondisinya amat tenang, segala penyakit dan penderitaannya berakhir sudah, ini telah membuktikan isi dalam sutra Buddha. Selama ini Upasaka Chen begitu takut pada penderitaan sakit, tidak suka menahan kesulitan, dalam kondisi sakit dia memohon “meninggal dengan damai, seawal mungkin bertemu dengan Buddha Amitabha”.


Tetapi ketika rombongan kami tiba di rumah sakit, dia masih tidak mampu merelakan keluarganya, tidak ingin terlahir ke Alam Sukhavati, saya bertanya padanya : “Bukankah anda suka pada Buddha Amitabha dan Alam Sukhavati?” Dia bukan saja tidak menggelengkan kepala, namun juga berlinangan airmata. Sungguh kasihan, pada detik demikian masih belum menembusi rintangan ini, dia sendiri amat jelas, tubuhnya hampir tidak bisa digunakan lagi, namun dia masih terus berharap.


Saya menjelaskan pada putranya bagaimana kondisi ayahnya saat itu dan bagaimana cara membantu dia agar terlahir ke Alam Sukhavati, agar dia jelas keadaan saat itu, kemudian memohon agar Buddha memberkati sehingga ayahandanya dapat melepaskan kemelekatan dan bersukacita membangkitkan tekad terlahir ke Alam Sukhavati”.


Saya menasehatinya : “Tubuh jasmani ini ibaratnya mobil yang kita sewa, dan kini sudah hampir tidak dapat digunakan lagi, jika dipaksakan akan terasa berat dan susah, walaupun sudah diperbaiki di bengkel, juga harus diganti dengan sebuah mobil yang baru. Buddha Amitabha sejak awal telah mempersiapkan mobil baru yang paling bagus dan terunggul buat dirimu,  mobil vajra yang takkan rusak, bagaimana caranya untuk mengganti dengan yang baru? Mudah saja, menfokuskan diri melafal Amituofo, begitu mobil lama ditinggalkan, maka segera menempati mobil baru. Jika memaksakan diri untuk mengendarai mobil rusak itu, maka pengendaranya juga akan amat bersusah payah. Kami akan menemanimu bersama-sama mengganti mobil baru, hanya saja kamu lebih beruntung karena memiliki kesempatan terlebih dulu, lebih awal ke Alam Sukhavati untuk kembali menjemput kami ke sana. Tenangkan hatimu dan pergilah. Terlahir ke Alam Sukhavati, bukan berarti berpisah dengan keluarga. Di Pohon Mustika Alam Sukhavati, anda bisa langsung melihat istri dan putra putri anda, melihat apa yang sedang mereka lakukan, lagipula dapat membantu dan melindungi mereka, sama sekali tiada rintangan. Seperti ketika menonton televisi, berada di layar yang sama, hanya saja nomor dan frekuensinya tidak sama. Asalkan salurannya diganti, maka acaranya tidak sama. Kita terlahir ke Alam Sukhavati juga sama, hanya perlu mengubah nomor dan frekuensi saja. Bagi para penghuni Alam Sukhavati, sesungguhnya mereka tidak pernah meninggalkan kita, karena mereka setiap saat dapat melihat dan membantu kita. Demikian pula ketika anda terlahir ke Alam Sukhavati, sama sekali tidak terpisah dengan kami. Maka itu terlahir ke Alam Sukhavati hanyalah mengganti nomor dan frekuensi saja, asalkan anda bersedia melafal Amituofo, maka anda telah mengganti frekuensi anda. Hanya saja kita manusia yang hidup di dunia saha ini, di hati kita ada halangan, barulah tidak dapat melihat Alam Sukhavati”.


Nyonya Chen berkata : “Kelak kami juga akan mengikuti dirimu terlahir ke Alam Sukhavati, anda pergi duluan, kemudian baru kembali menyelamatkan kami dan para makhluk. Alam saha ini terlalu menderita, menyiksa dirimu, kami sungguh tidak tega melihatnya. Di Alam Sukhavati ada kolam tujuh mustika dan air delapan jasa kebajikan, dasar permukaannya dilapisi emas. “Namamu adalah Jin-chi, anda harus ingat masuk ke kolam bunga teratai tujuh mustika di Alam Sukhavati!”


Semua orang memotivasi dirinya, mendampinginya melafal Amituofo. Tidak lama kemudian, hatinya telah melepaskan kemelekatan. Melepaskan hanyalah sebersit niat pikiran saja, ribuan bahkan puluhan ribu kalpa tidak dapat melihat segala hal dengan berlapang hati, tidak bisa melepaskan kemelekatan, sekarang sudah bisa melepaskan, juga hanyalah sebersit niat pikiran saja!                

  
Dikutip dari : Ceramah Master Dao Zheng
Judul :  Menebar Senyum Memasuki Kolam Tujuh Mustika