Sabtu, 25 Mei 2013

Teratai Mustika Yang Cacat 07



Bagaimana Cara Melatih Kesabaran?
(Mengapa bersabar itu merupakan tekanan?)

Ada yang bertanya pada saya : “Bagaimana cara melatih kesabaran?” Karena praktisi ini bertemu dengan banyak masalah, dalam hatinya terasa ada bongkahan batu yang besar. Saya menjawab : “Sebaiknya anda tidak bertanya pada saya tentang hal ini, karena saya sendiri saja tidak mampu, bagaimana bisa mengajarimu?”. Saya sendiri tidak mampu bersabar, memaksakan diri untuk bersabar sungguh menderita, saya hanya mencoba menyelaminya perlahan-lahan, kemudian bertanya kembali pada diriku kembali : “Mengapa saya bisa merasa bahwa itu adalah hinaan dan tekanan batin, sehingga saya harus bersabar?”, pastinya saya sedang bersabar terhadap sesuatu yang memiliki nilai, sehingga merasa dampaknya adalah hinaan, adalah sebuah kondisi yang sulit bagi kita untuk menahan diri, sehingga kita merasa perlu bersabar! Sesungguhnya segala kondisi adalah seimbang dan biasa-biasa saja, mana perlu harus menggunakan ilmu kesabaran!

“Kejayaan” Palsu Tiada Nilainya, maka Tidak Ada “Hinaan” Yang Perlu di Sabarkan

Mari kita mengambil sebuah contoh :

Ketika Master Guang-qin masih berada di dunia ini, pernah suatu kali ada seorang wartawan, karena melihat banyak umat yang memberi persembahan kepada Master, maka niat jahatnya muncul, wartawan ini kemudian naik ke atas gunung dengan maksud untuk memeras Master. Ketika bertemu Master, dia pun menjulurkan tangannya dan berkata : “Cepat serahkan uang, kalau tidak pena ku akan berbicara, jika anda tidak bersedia memberiku uang, saya akan menulis artikel yang menjelek-jelekkan dirimu, besok pagi ketika orang membaca di suratkabar, dijamin seluruh pergunungan mu takkan ada yang berani berkunjung.

Mendengar ancaman ini Master Guang-qin hanya bersikap biasa-biasa saja dan menjawab : “Tolonglah! Kalau bisa tulis yang lebih parah lagi! Silahkan anda tulis apa saja gak masalah, saya tidak membutuhkan penghormatan dari umat. Sesungguhnya makin banyak yang ingin meminta pemberkahan dariku, maka setiap hari saya harus mempersiapkan air Maha Karuna Dharani, sebaliknya bila tidak ada lagi orang yang menghormati ku, maka saya dapat dengan tenang dan leluasa melafal Amituofo!”. Si wartawan yang mendengar penuturan Master ini, berkata bahwa selama dia melalang buana tidak pernah bertemu dengan Bhiksu yang sedemikian!

Seperti kata pepatah “Insan yang tidak memiliki permohonan karakter dirinya jadi meningkat”. Masalah ini bagi Master  Guang-qin merupakan hal yang biasa! Dapat dikatakan tidak perlu menggunakan ilmu kesabaran. Karena kita orang awam, menganggap bila seorang Master Senior dimuat di suratkabar, kalau berita itu positif maka bernilai, makanya barulah kita takut pada dampak yang sebaliknya. Namun bagi Master Guang-qin, beliau merasa bahwa  bila dirinya dimuat di suratkabar juga tak bernilai apa-apa! Jadi sejelek apapun yang ditulis juga tak masalah!

Dikutip dari ceramah Master Dao-zheng :  “Teratai Mustika Yang Cacat”.