Sabtu, 25 Mei 2013

Teratai Mustika Yang Cacat 010




Jalinan Cinta Menjadi Jalinan Pencerahan – Praktisi Nian-fo Yang Luar Biasa

Ketika saya bertemu dengan masalah, saat marah dan risau, saya akan mengingat teladan yang ditunjukkan oleh para praktisi Nian-fo. Walaupun penampilan mereka hanya biasa-biasa saja, namun sesungguhnya mereka sesungguhnya adalah insan yang luar biasa, salah satunya adalah Lin shi-jie (shi-jie adalah sebutan untuk umat wanita).


Yakin pada Buddha Amitabha Maka Pindah Rumah

Ketika itu, saya pindah dari Kaohsiung ke Taichung dan menyewa rumah, tujuannya adalah ingin mendengar ceramah Upasaka Li Bing-nan, saat itu beliau telah berusia lebih dari 90 tahun. Saat itu dari pekerjaan ku di rumah sakit, saya amat menyadari ketidakkekalan serta sulitnya kesempatan mendengar Dharma, maka itu seharusnya lebih menghargai kesempatan belajar Dharma selama Kalyanamitra masih berada di dunia, menggunakan masa muda untuk tekun belajar Dharma.

Karena itu saya meminta bantuan rekan saya Dokter Chen untuk mencarikan rumah buat diriku. Dokter Chen berhasil mencarikan rumah seorang sahabat Dharma yakni Lin shi-jie. Kami tak pernah bertemu, namun asalkan yakin pada Buddha Amitabha maka jadi pindah rumah.

Dokter Chen memberitahukan padaku, suami Lin shi-jie meninggal pada usia muda dalam sebuah kecelakaan, Lin shi-jie mengandalkan menjual nasi vegetarian untuk membiayai hidup keluarganya. Mertuanya yang telah berusia 80 tahun dan 4 orang anak yang masih kecil. Dokter Chen mengatakan Lin shi-jie adalah insan yang suka membantu orang lain.


Honey, pergilah dengan Buddha Amitabha, semua beban akan kupikul sendiri!

Suatu hari ketika sedang duduk mengobrol dengan para sahabat Dharma, barulah diketahui ternyata Lin shi-jie memiliki pengalaman dan tindakan yang luar biasa. Ternyata Lin shi-jie adalah seorang istri yang sangat mengandalkan suaminya, untunglah suaminya baik. Lin shi-jie juga amat manja dan walapun di depan umum juga suka memanggil suaminya dengan sebutan Honey. Waktu itu dia belum memahami ajaran Buddha, hanya pernah mendengar bahwa menjelang ajal harus melafal Amituofo. Pada hari terjadinya kecelakaan pada suaminya, rekan-rekan segera menemani Lin shi-jie meninjau lokasi kejadian.

Suaminya yang langsung mati di tempat, dan darah mengalir di jalanan, pihak keluarga yang melihat tentunya akan sangat menyayat hati, apalagi bagi Lin shi-jie? Namun di luar dugaan, ketika sampai di lokasi kejadian, Lin shi-jie berada di samping jasad suaminya, dengan tulus mengucapkan : “Honey! Cepatlah melafal Amituofo! Pergilah ikut Buddha Amitabha ke Alam Sukhavati! Serahkan padaku semuanya akan kupikul sendiri, mama dan anak-anak akan kujaga dengan baik, anda pergilah dengan tenang, serahkan semuanya padaku!” Kemudian dengan tenang dia duduk bersila di jalanan dan mulai melafal Amituofo, setiap lafalannya terdengar begitu tulus!


Kestabilan dalam sambaran petir di hari yang cerah, cinta sejati dalam kematian yang menyayat hati.


Rekan-rekannya mendampingi Lin shi-jie melafal Amituofo, namun tiada yang menyangka Lin shi-jie bisa begitu stabil, begitu mendalam meyakini Buddha Amitabha, maha maitri maha karuna Nya menyelamatkan para makhluk. Keyakinan yang amat mendalam ini sehingga dia tidak ditumbangkan oleh kondisi ini, tidak dikacaukan oleh perasaan cinta, yang terpikir olehnya adalah bagaimana agar suami dapat pergi dengan tenang mengikuti Buddha Amitabha ke Alam Sukhavati. Polisi juga mengatakan ketika mereka sampai  di lokasi juga tidak terdengar suara tangisan atau jeritan, yang ada hanya suara lafalan Amituofo, maka itu merasa aneh dan bertanya : “Apakah kalian keluarga almarhum?” Namun Lin shi-jie tetap melanjutkan melafal Amituofo.

Li shi-jie bertanya pada Lin shi-jie : “Mengapa dalam kondisi yang demikian anda bisa begitu stabil? Walaupun para praktisi yang dalam keseharian telah memiliki persiapan batin, namun dalam menghadapi kondisi demikian juga tidak bisa mengeluarkan ucapan seperti anda!”

Ya memang benar! Bila dari sudut dirinya, coba kita pikirkan sambaran petir di hari yang cerah! Kematian yang menyayat hati! Biasanya keseluruhan tubuh akan gemetar, tangisan dan jeritan, mengeluh, memarahi Buddha tidak melindungi, menyalahkan bahwa orang baik cepat mati; dan juga mengeluarkan tangisan dan jeritan : “Setelah anda mati, tinggal saya seorang diri harus menanggung nafkah keluarga, mana mungkin saya sanggup?”


Saya telah menyaksikan banyak kejadian begini di rumah sakit, maka itu ketika mendengar kisah Lin shi-jie, jadi sangat tergugah juga merasakan kekuatan Buddha yang tak terbayangkan, Jika ada yang bertanya adakah tembang cinta sejati maka saya merasa inilah dia!


Dikutip dari ceramah Master Dao-zheng :  “Teratai Mustika Yang Cacat”.