Jumat, 07 Juni 2013

Dari Bahagia Menuju Kebahagiaan 09




Melafal Amituofo harus menghadap pada channel yang tepat. Menjadi pengendali diri sendiri.

  
  Ada orang yang mengatakan Buddha Amitabha tidak sakti,  ketika perutnya sakit dia melafal Amituofo namun perutnya tetap sakit, mengapa dia melafal Amituofo tidak memiliki khasiat?  Karena sewaktu perutnya sakit, dia melafal Amituofo namun tidak menfokuskan pikiran ke dalam Amituofo,  hanya terus memikirkan perutnya yang sakit. Ibarat kita menonton televisi, bila ingin menonton siaran TTV maka harus mencocokkan channelnya ke TTV, jika nomornya tidak sesuai atau sebentar-sebentar berganti siaran, tayangan demikian sungguh kacau dan tampak tak jelas. Aturan ini sangat sederhana, melafal Amituofo juga serupa, dalam melafal Amituofo  seluruh tubuh dan pikiran harus rileks, menfokuskan perhatian pada sepatah “Amituofo “.  Jika tubuh masih ada rasa tegang, kaku, berarti pikiran masih melekat pada banyak bagian dari tubuh, tidak sudi melepaskan, tidak terfokus pada Buddha. Karena tak terfokus, perhatian jadi terbagi ke banyak titik, makanya tidak mudah terjalin, ibarat siaran televisi yang terus  menerus diganti siarannya, sehingga tidak tampak hasil akhirnya.  

Teori memang gampang dipahami, namun kenyataannya justru harus mengendalikan pikiran sendiri, seketika juga dapat menenangkan diri berkonsentrasi melafal Amituofo,  ini diperlukan kesabaran untuk melatihnya barulah dapat melakukannya. Bila anda tidak percaya, sekarang juga boleh dipraktekkan, sekarang anda coba melafal sepuluh kali “Amituofo”, jika selama melafal sepuluh kali pelafalan tidak timbul pikiran lain, maka ini berarti anda memiliki sedikit dasar.  Bila baru saja melafal satu dua kali lafalan sudah teringat pada bakpau kacang di kulkas yang hampir rusak, tidak dipanaskan sebentar  tidak bisa : terpikir lagi bajuku yang begitu cantik telah berlubang digigit serangga, sungguh disayangkan, sebentar memikirkan ini sebentar memikirkan itu, terus mengkhawatirkan  segala macam besi karatan di alam saha, benda yang sedikitpun tak bernilai, ini menandakan hati kita diikat oleh sesuatu dengan sangat erat, sehingga tidak dapat menjadi pengendali diri.

Sampai pikiran sendiri saja tidak mampu dikendalikan, kehidupan kita juga sama halnya tiada keyakinan,  diri sendiri tidak yakin dan tidak tahu kapan akan pergi,  setelah pergi tidak tahu ke mana harus menuju,  ini sungguh tidak memiliki keberuntungan, ini barulah menyeramkan. Jika dalam keseharian kita senantiasa melatih kebiasaan untuk menghemat wakttu yang biasanya dipakai untuk keluhan-keluhan, mengobrol, kemudian menghemat tenaga yang biasanya dipakai untuk merisaukan dan mengkhawatirkan,  waktu dan tenaga ini kita gunakan untuk melafal Amituofo, melatih dalam setiap saat dapat menfokuskan diri melafal Amituofo, melatih untuk mengubah khayalan dan kemelekatan kita, melatih untuk tidak terpengaruh gangguan dari lingkungan sekitar, dapat menjadi pengendali diri sendiri, bukankah ini sangat baik? Tak peduli lahir atau mati, juga dapat begitu bebas.


Dikutip dari ceramah Master Dao-zheng : “Dari Bahagia Menuju Kebahagiaan”